Minggu, 18 Januari 2015


Solopos.com, JAKARTA  - Muhammadiyah akan terus berjihad melawan rokok. Pernyataan itu diungkapkan Ketua Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Erwin Santosa, Kamis (15/1/2015).
“Kami jihad melawan rokok. Ini kami mulai dari internal kami dan telah terwakili oleh 23 majelis dan organisasi otonom lewat deklarasi Muhammadiyah Tobacco Control Framework/MTCF,” kata Erwin di kantor Dana Pensiun Rumah Sakit Islam Jakarta, Cempaka Putih, Jakarta.
Dia mengatakan langkah selanjutnya meneruskan semangat jihad itu menuju akar rumput atau anggota Muhammadiyah. Terlebih kini semangat melawan rokok itu sudah terwakili para pimpinan dari majelis dan organisasi ortonom Muhammadiyah dengan momentum deklarasi Kerangka Kerja Muhammadiyah dalam Pengendalian Produk Tembakau atau MTCF.
Kesehatan, kata dia, merupakan salah satu hal yang penting dalam mewujudkan masyarakat yang cerdas. Untuk itu, melawan rokok sama dengan memberdayakan potensi masyarakat. Sebaliknya, jika rokok terus dibiarkan beredar bebas maka akan memengaruhi tujuan Muhammadiyah dalam menciptakan masyarakat yang sehat dan cerdas.
Terkait jihad lawan rokok, Erwin mengatakan sepekan lalu Forum Jogja Sehat Tanpa Tembakau (JSTT) dari Muhammadiyah memenangi gugatan Tim Pembela Kretek dari Sleman, Yogyakarta.
Gugatan itu dilayangkan kepada Muhammadiyah karena dianggap mengancam para petani tembakau.
Nama “Jogja Sehat Tanpa Tembakau”, kata dia, sama sekali tidak mengandung makna tanaman tembakau adalah tanaman yang tidak bermanfaat.
JSTT sendiri tidak memiliki kegiatan yang berkaitan dengan tanaman dan petani tembakau. Namun JSTT melakukan kegiatan yang lebih bersifat memberikan advokasi pelayanan kesehatan masyarakat, terutama pada kelompok rentan.
Erwin juga mengatakan jika upaya Muhammadiyah lewat MTCF tidak hanya bergerak di internal organisasi saja, tapi juga ke luar.
“Kami telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk terus mendukung mereka dalam mendorong pemerintah dalam ratifikasi Indonesia untuk Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control/FCTC),” kata dia.
FCTC sendiri hingga kini belum kunjung diratifikasi oleh Indonesia bersama delapan negara lain bersama Andorra, Republik Dominika, Eritrea, Liechtensein, Malawi, Monaco, Somalia dan Sudan Selatan.
“Kita hanya akan jadi pasar impor rokok jika FCTC tidak kunjung kita ratifikasi,” kata dia.
Sementara itu, 180 negara telah menandatangani FCTC yang merupakan bagian dari progam Badan Kesehatan Dunia Persatuan Bangsa-Bangsa (WHO PBB).
FCTC merupakan sebuah kerangka kerja yang mendorong negara-negara di dunia untuk memprioritaskan hak perlindungan kesehatan masyarakat, mengatur dan mengendalikan penggunaan produk-produk tembakau termasuk dampak produksi rokok oleh perusahaan rokok.

Sumber : www.solopos.com






Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Ketua

Drs. H. Tridjono
NBM. 498.374

Menu

Jadwal Sholat


jadwal-sholat

Kalender

Jam

Kategori

berita (11) Muktamar (4) Milad (1)

Kontak Kami

Email Kantor :
dikdaspdmsolo@yahoo.co.id
dikdasmenska@gmail.com

Email Admin :
Steve6853@gmail.com

Nomor Telp Kantor :
656942

Fax :
(0271)653025

Saran dan Kritik ( Mail Box )

Arsip Blog

Posting Populer

Kerjasama


Video Kelompok Paduan Suara di Halal Bihalal SMP Muhammadiyah 4 Surakarta

Kalender Hijriyah

Pengunjung

Flag Counter

DIKDASMEN

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified